Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.
Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir.
Topik berat ya? Ya, saya tahu itu. Menuliskannya pun tidak mudah tentunya. Meski begitu, saya coba untuk menuangkan kegundahan saya akan kematian supaya saya mampu bedialog dengan bathin saya sendiri. Toh, buat saya pribadi, mau jadi siapa pun Anda, seberapa makmurnya kita, ujung dari perjalanan ini tetap saja KEMATIAN.
Soal mendadak, apa iya? Itu logika kita sebagai manusia. Dalam logika Allah, tentu tidak demikian. Mendadak atau tidak jadinya relatif, tergantung seberapa siap menghadapinya. Jujur saja, kalau saya belum siap, entah karena saya masih menikmati keduniawian saya atau bekal saya belum cukup untuk sampai ke sana. Well, pada dasarnya toh sama saja ya, hal-hal duniawi identik dengan kefanaan. Dan saya yakin, timbangan bekal amal saya masih kalah berat dibanding beban dosa saya. Itu persoalan pokok yang membuat saya merasa belum SIAP.
Suatu saat dalam hidup saya, tersadarkan bahwa perjalanan hidup manusia di dunia tidak lah abadi. Cukup lama saya untuk mencerna maknanya. Lah, buat apa hidup kalau terus akhirnya mati? Kenapa harus menciptakan kehidupan jika ujungnya tetap ketakabadian? Pertanyaan ini cukup membuat galau saya selama beberapa saat. Pergulatan bathin yang luar biasa, karena sejuta rasa ada di sana, ya takut, cemas, bingung, disorientasi, tak bermakna.. uniknya tak satu pun yang positif. (Pertanyaan 1)
Lalu, saya pun teringat peristiwa beberapa tahun lalu, saat Lion Air gagal mendarat di Bandara Adisumarmo, Solo. Pesawat nyaris luluh lantak, puluhan meninggal dunia, sebagian besar selamat. Yang menggelitik adalah pernyataan salah satu tokoh nasional yang turut serta dalam penerbangan tersebut. Sesaat setelah persitiwa, beliau mengatakan "Alhamdulilah, Allah masih menyayangi saya.." Loh, yang mati terus gimana? Allah ngga sayang sama mereka, sehingga murkanya lah yang membuat mereka mati? Benar kah justru dengan kematian, Allah menunjukkan cintanya? (Pertanyaan 2)
Di sisi yang lain, sikap apa yang harus kita tunjukkan ketika berbelasungkawa? Dalang nyentrik,@sudjiwotedjo, dalam salah satu kicauannya di twitter memilih untuk mengatakan Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un (انّا للہ و انّا الیہ راجعون) daripada "Turut berduka cita ya..", karena baginya kematian itu agung yang harus disambut dengan suka cita. Benarkah? (Pertanyaan 3)
Tilik balik ke beberapa tokoh atau lingkaran dekat kita sendiri, siapa yang mati muda? Apakah penjahat kambuhan, koruptor atau justru orang-orang baik. Orang baik mati lebih dulu supaya terselamatkan dari limbah dunia. Is that true? (Pertanyaan 4)
Sobat, saya belum sampai tahap di mana saya bisa menjawab semua pertanyaan iseng saya di atas. Saya hidup dalam pertanyaan, dan kadang ia tak membutuhkan jawaban karena sudah memberikan jawaban dengan sendirinya. Pertanyaan-pertanyaan itu lah yang semakin menguatkan saya bahwa orang hidup (setidaknya yang masih diberikan kesempatan untuk hidup) harus punya TUJUAN, sebab jika tidak, sia-sia lah hidupmu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar