1 January 2012, hari dan tanggal yang tak akan terlupakan bagi ku dan keluarga besar Kelud. Diiringi hujan yang begitu derasnya, pagi di mana sebagian besar orang masih lelap tertidur lepas perayaan Tahun Baru, kami bertiga (aku, mamah dan istriku) tergopoh-gopoh membawa Papah ke RS. Ya, akhirnya setelah mampu bertahan selama 3 bulan, beliau harus meninggalkan kami untuk selama-lamanya.
Innalillahi Wa Inalillahi Roji’un……….
Entah kenapa aku membuat blog ini, tulisannya setelah aku baca-baca kembali berujung pada kematian, sesuatu yang musykil untuk kita hindari. Bahkan jika ada yang bertanya “Siapkah kamu?”, aku spontan menjawab “Belum… berikan aku waktu lagi….” Padahal aku tahu persis, aku tidak akan pernah bisa menghindari atau menolaknya saat waktunya tiba.
Hikmah luar bisa mendalam kuperoleh dari perginya Papah waktu itu. Betapa kematian itu begitu dekat. Betapa tak ada satu pun kuasa dunia yang bisa mengusirnya atau menundanya barang sedetik saja. Betapa hidup sungguh cuma bagaikan numpang minum. Saat waktunya tiba, sirna sudah semua atribut yang menempel dalam hidup seseorang, baik harta, tahta, kehormatan, istri cantik nan sholehah, anak, menantu,c ucu dan sederet hal duniawi lainnya.
Bahwa semua yang kutahu tentang kematian nampak begitu nyata dalam panca indraku pada saat itu. Betapa semuanya berjalan begitu cepat, nyaris tak tersadari bahwa orang yang sungguh kita sayangi yang kemarin masih baik-baik saja, hari itu jatah hidupnya telah selesai. Yang kemarin masih bisa meraba pipi kita, tiba-tiba tubuhnya terasa dingin tanpa bisa menyentuh kita lagi.
Semuanya akan berakhir di liang sempit nan pengap. Tidak ada lagi pakaian bermerek yang menempel di tubuh itu, hanya kain kafan. Tak akan ada teman. Sepi. Senyap. Dan buatku menakutkan. Di liang itu lah, seluruh tubuhku bergetar hebat demi menyadari bahwa kelak aku pun akan terbaring tak berdaya seperti tubuh yang kukuburkan ini.
------------------
Aku mengenalnya tahun 1994, saat ia masih gagah dengan kumis hitam dan tubuh tirusnya. Gaya bahasa yang ceplas-ceplos tanpa memandang strata membuatku lebih mudah dekat dengannya ketimbang dengan Mamah (upppsss, sorry ya Mam). Pertemuan kami sangat jarang terjadi hingga tahun 2006 silam, saat secara resmi aku meminta ijin untuk menikahi anaknya.
Sikapnya yang saat itu menjaga jarak, perlahan-lahan mulai mencair. Kami pun bisa ngobrol tak jelas mulai dari politik sampai urusan bensin mobil. Di rumah Kelud, Semarang, ia punya kursi singgasana yang tak seorang pun boleh duduk di situ saat ia berada di sekitar tempat tersebut. Di teras belakang itu lah tempat kami ‘berdiskusi’ tentang banyak hal.
Kebiasaannya bagiku sangat unik, karena ia selalu bisa memodifikasi barang yang sudah tidak terpakai menjadi berfungsi kembali. Oleh karena itu, ia selalu bisa diandalkan untuk urusan ‘betul membetulkan’ baik urusan rumah, motor maupun mobil. Hem, aku iri akan kemampuannya dalam hal yang satu ini.
Masih selalu terngiang pesannya saat kami menikah Mei 2008 silam “Titip anakku!” Singkat namun jelas bermakna dalam. Jika aku curhat tentang anaknya, ia tidak pernah sedikit pun membela anaknya, malahan ia selalu berkata “Fanny kae persis emak’e, jane awake dewe dadi wong lanang kudu luwih akeh sabare” (Fanny itu persis mamahnya, kita sebagai laki-laki memang harus lebih banyak sabarnya). Perspektif yang berbeda yang kudapat dari seorang laki-laki dewasa yang jauh lebih banyak pengalaman hidupnya.
Keras kepalanya kadang membuat kami semua putus asa. Namun ia tak sanggup sekeras kepala itu saat penyakit itu datang dan kian ganas, ia tak punya pilihan banyak selain menuruti apa kata istri dan anak-anaknya. Saat kemudian ia harus ikhlas menyerah dengan kuasa Allah yang memanggilnya pulang.
Dua hari sebelum ia pergi, inilah pesannya padaku “Titip anak bojo lan putuku Bud……..”
Selamat Jalan Pap, meski aku merindukan mu, aku ikhlas engkau di sana.
I love you as always….

Amanah orang yang sudah meninggal, tinggi nilainya Ton. Selamat menjaganya...
BalasHapus