Cerita ini berawal dari obrolan santai selepas makan siang. Wah kalau bicara soal ini, saya bisa membicarakan beragam topik, mulai dari Obama sampai SBY, Cindy Crawford sampai Syahrini, atau soal keluarga. Topik terakhir paling sering saya bahas, ya pertama saya memang cinta keluarga, kedua saya selalu senang mendengar kisah keluarga lain.
Saya kagum dengan teman perempuan saya yang begitu mencintai anaknya yang bekebutuhan khusus, bahkan ia rela bersusah payah mencarikan sekolah ‘normal’ buat sang anak. Perjuangannya sungguh luar biasa, bila berada dalam posisinya, saya tak tahu apakah sanggup atau tidak. Saya mengagumi kesederhanaan keluarga rekan saya yang lain, yang selalu bisa mencari sisi positif atas deraan hidup yang diterimanya. Intinya, saya belajar banyak dari semua cerita teman saya.
Nah, cerita ini tentang seorang bapak yang saya tahu persis kedekatannya dengan Yang Maha Menghidupi. Saya iri melihat kekhusukan beliau saat sholat, saya bisa menangis mendengar doanya setiap kali dia mengimami saya, saya salut dengan bagaimana ia memandang anaknya yang berkebutuhan khusus, saya terilhami dengan seluruh kesederhanaan yang ia miliki.
Tetiba, beliau melontarkan pernyataan yang tak pernah saya duga “Salah saya apa ya Pak, kok Allah memberikan cobaan yang tak pernah berhenti?” Serasa disiram air dingin saat pulas tertidur, karena saya tidak pernah menduga beliau akan melontarkan pernyataan itu. Lirih saya bertanya “Kenapa Pak?” Sebagai orang yang jauh lebih muda dari beliau, saya segan untuk bertanya mendetail apalagi berupaya menasehatinya. Memangnya saya siapa?
Karena saya melihat ada ‘danau’ di pelupuk matanya, saya memberanikan diri untuk membuka percakapan;
“Kok bisa ngomong begitu Pak? Ada apa to?”
“Saya mencari tahu salah saya sebenarnya apa, kok diberi cobaan seberat ini’ (sambil menarik nafas panjang)
Sebagai generasi yang dibesarkan oleh sinetron, komik, bahasa gaul dan budaya pop, tentu bukan hal mudah bicara dengan orang yang sudah kenyang pengalaman hidup. Tapi, saat itu, yang saya yakini adalah kebenaran harus disampaikan sekecil apa pun.
“Aku kok melihat ngga ada yang salah dengan hidup Bapak. Bapak kuat, Bapak dekat dengan Allah. Jadi aku percaya Allah sangat sayang sama Bapak”
“Semua tentang anak-anak saya. Setelah si kecil dengan keistimewaannya, kini yang satu lagi juga divonis dokter... Ah sudah lah!” (sambil seolah menghapus sekelebat bayangan dari wajahnya)
Helaan nafasnya panjang sekali. Aku tidak berani menyela beliau, kubiarkan ia dalam keheningan sesaat. Danau di matanya akhirnya kulihat sudah meleleh ke pipinya.
“Pak, aku kok melihatnya dengan cara yang berbeda ya? Saya tidak tahu masalah Bapak, dan saya juga gak mau tahu kalau itu terlalu privat”
Ah, saya tak perduli, apakah dia mau mendengarkan atau tidak. Yang penting saya coba melakukan apa yang saya bisa.
“Karena Bapak memang istimewa di mata-Nya, maka ia berikan hadiah itu pada Bapak. Anak itu khan titipan Allah. Jadi, dia berikan hamba-Nya yang paling istimewa untuk orang se-istimewa Bapak, tujuannya supaya Bapak tetap lurus. Nah dia berikan cobaan lagi, karena ternyata Bapak kuat dan mampu. Tentu kita semua sudah tahu, Allah ngga akan pernah kasih cobaan di luar kemampuan kita”
Terkesan menggurui? Biar saja! Ketika saya mengatakan ini pun, saya berusaha sesadar-sadarnya untuk memasukkan value yang sama ke jiwa saya, ya semacam self reminder juga. Perlahan saya mulai perhatikan bahasa tubuhnya, saya berniat akan menghentikan ocehan ini andaikan ia terlihat mulai jengah. Namun, air muka itu berubah, sudah nampak keceriaan dan optimisme di sana. Saya teruskan saja ocehan anak kecil ini.
“Hidup ini khan ngga selesai sampai sini Pak. Dunia akan musnah. Nah ketika urusan duniawi selesai, masih ada step berikutnya yang lebih abadi. Yang kita lakukan di sini khan cuma menyiapkan bekal. Ah, Bapak bekalnya sudah banyak. Lha saya?”
Saya menyadari persoalan persiapan logistik untuk kehidupan berikutnya pun belum lama, jadi rasanya juga ngga tepat-tepat amat saya memberi wejangan itu. Ah tak perduli juga, ini cara saya untuk mengingatkan diri sendiri.
Seketika itu saya teringat film drama Amerika tahun 2000 awal, “Pay It Forward” yang dibintangi Haley Joel Osment. Dikisahkan secara apik bahwa untuk membuat kehidupan ini lebih baik, seseorang harus melakukan kebaikan kepada tiga orang di mana ia tidak berharap ketiga orang itu untuk pay it back. Justru kebaikan ini harus diteruskan kepada ketiga orang yang lain juga. Berikutnya, banyak keajaiban muncul dari rantai kebaikan ini. Nah, saya adopsi inti film itu untuk kisah ini.
“Pak, daripada kita berkutat di masa lalu yang ujungnya tak pernah selesai, lebih baik energi ini kita salurkan untuk berbuat sesuatu. Kesembuhan adalah ridha-Nya. Kita cuma wajib berusaha. Semua doa, amalan, ibadah wajib dan tak wajib adalah bentuk cinta kita pada Allah. Mungkin wujud cinta itu juga mesti kita amalkan pada sesama, agar hidup kita seimbang dan juga jadi berkah buat orang lain.”
“Jika ada uang di dompet Bapak, habiskan Pak, berikan pada yang berhak. Selanjutnya ikhlas kan. Insya Allah, dicukupkan oleh-Nya”
Terdengar aneh? Mungkin ya. Tapi saya tahu tidak semua hal perlu diberi alasan, tidak semua harus logis. Jika semuanya logis, hey buat apa kita hidup?
Singkat ia katakan “Terimakasih Pak, sudah mau mendengarkan”. Ia hapus air matanya, dan pergi.
Tiba waktu Ashar, diam-diam saya mendoakan sahabat saya ini agar diberikan kelapangan dan keikhlasan untuk menjalani semuanya. Saya berharap masih bisa mendengarkan kabar baik darinya, sehingga saya bisa teruskan cerita ini. Apa pun itu, tetap lah itu yang terbaik. Insya Allah.....
Jangan menyerah Pak!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar