Senin, 06 Februari 2012

1 January 2012

1 January 2012, hari dan tanggal yang tak akan terlupakan bagi ku dan keluarga besar Kelud. Diiringi hujan yang begitu derasnya, pagi di mana sebagian besar orang masih lelap tertidur lepas perayaan Tahun Baru, kami bertiga (aku, mamah dan istriku) tergopoh-gopoh membawa Papah ke RS. Ya, akhirnya setelah mampu bertahan selama 3 bulan, beliau harus meninggalkan kami untuk selama-lamanya.
Innalillahi Wa Inalillahi Roji’un……….
Entah kenapa aku membuat blog ini, tulisannya setelah aku baca-baca kembali berujung pada kematian, sesuatu yang musykil untuk kita hindari. Bahkan jika ada yang bertanya “Siapkah kamu?”, aku spontan menjawab “Belum… berikan aku waktu lagi….” Padahal aku tahu persis, aku tidak akan pernah bisa menghindari atau menolaknya saat waktunya tiba.
Hikmah luar bisa mendalam kuperoleh dari perginya Papah waktu itu. Betapa kematian itu begitu dekat. Betapa tak ada satu pun kuasa dunia yang bisa mengusirnya atau menundanya barang sedetik saja. Betapa hidup sungguh cuma bagaikan numpang minum. Saat waktunya tiba, sirna sudah semua atribut yang menempel dalam hidup seseorang, baik harta, tahta, kehormatan, istri cantik nan sholehah, anak, menantu,c ucu dan sederet hal duniawi lainnya.
Bahwa semua yang kutahu tentang kematian nampak begitu nyata dalam panca indraku pada saat itu. Betapa semuanya berjalan begitu cepat, nyaris tak tersadari bahwa orang yang sungguh kita sayangi yang kemarin masih baik-baik saja, hari itu jatah hidupnya telah selesai. Yang kemarin masih bisa meraba pipi kita, tiba-tiba tubuhnya terasa dingin tanpa bisa menyentuh kita lagi.
Semuanya akan berakhir di liang sempit nan pengap. Tidak ada lagi pakaian bermerek yang menempel di tubuh itu, hanya kain kafan. Tak akan ada teman. Sepi. Senyap. Dan buatku menakutkan. Di liang itu lah, seluruh tubuhku bergetar hebat demi menyadari bahwa kelak aku pun akan terbaring tak berdaya seperti tubuh yang kukuburkan ini.
------------------
Aku mengenalnya tahun 1994, saat ia masih gagah dengan kumis hitam dan tubuh tirusnya. Gaya bahasa yang ceplas-ceplos tanpa memandang strata membuatku lebih mudah dekat dengannya ketimbang dengan Mamah (upppsss, sorry ya Mam). Pertemuan kami sangat jarang terjadi hingga tahun 2006 silam, saat secara resmi aku meminta ijin untuk menikahi anaknya.
Sikapnya yang saat itu menjaga jarak, perlahan-lahan mulai mencair. Kami pun bisa ngobrol tak jelas mulai dari politik sampai urusan bensin mobil. Di rumah Kelud, Semarang, ia punya kursi singgasana yang tak seorang pun boleh duduk di situ saat ia berada di sekitar tempat tersebut. Di teras belakang itu lah tempat kami ‘berdiskusi’ tentang banyak hal.
Kebiasaannya bagiku sangat unik, karena ia selalu bisa memodifikasi barang yang sudah tidak terpakai menjadi berfungsi kembali. Oleh karena itu, ia selalu bisa diandalkan untuk urusan ‘betul membetulkan’ baik urusan rumah, motor maupun mobil. Hem, aku iri akan kemampuannya dalam hal yang satu ini.
Masih selalu terngiang pesannya saat kami menikah Mei 2008 silam “Titip anakku!” Singkat namun jelas bermakna dalam. Jika aku curhat tentang anaknya, ia tidak pernah sedikit pun membela anaknya, malahan ia selalu berkata “Fanny kae persis emak’e, jane awake dewe dadi wong lanang kudu luwih akeh sabare” (Fanny itu persis mamahnya, kita sebagai laki-laki memang harus lebih banyak sabarnya). Perspektif yang berbeda yang kudapat dari seorang laki-laki dewasa yang jauh lebih banyak pengalaman hidupnya.
Keras kepalanya kadang membuat kami semua putus asa. Namun ia tak sanggup sekeras kepala itu saat penyakit itu datang dan kian ganas, ia tak punya pilihan banyak selain menuruti apa kata istri dan anak-anaknya. Saat kemudian ia harus ikhlas menyerah dengan kuasa Allah yang memanggilnya pulang.
Dua hari sebelum ia pergi, inilah pesannya padaku “Titip anak bojo lan putuku Bud……..”
Selamat Jalan Pap, meski aku merindukan mu, aku ikhlas engkau di sana.
I love you as always….

Selasa, 20 September 2011

Jangan Menyerah Pak....


Saya punya beberapa orang yang saya kagumi dalam hidup ini, ia tidak harus terkenal juga tidak mesti punya sesuatu yang wah. Kadang kesederhanaan berfikirnya sudah cukup membuat saya hormat dengan orang tersebut.
Cerita ini berawal dari obrolan santai selepas makan siang. Wah kalau bicara soal ini, saya bisa membicarakan beragam topik, mulai dari Obama sampai SBY, Cindy Crawford sampai Syahrini, atau soal keluarga. Topik terakhir paling sering saya bahas, ya pertama saya memang cinta keluarga, kedua saya selalu senang mendengar kisah keluarga lain.
Soal anak, istri, suami, konflik, perceraian, sedih, gembira selalu mewarnai cerita tentang keluarga. Tentu tiada ada maksud sedikit pun untuk mendeskriditkan orang lain atau pun nafsu mendengar aib keluarga lain. Bukan. Karena saya selalu memetik pelajaran dari semua cerita yang pernah saya dengar.
Saya kagum dengan teman perempuan saya yang begitu mencintai anaknya yang bekebutuhan khusus, bahkan ia rela bersusah payah mencarikan sekolah ‘normal’ buat sang anak. Perjuangannya sungguh luar biasa, bila berada dalam posisinya, saya tak tahu apakah sanggup atau tidak. Saya mengagumi kesederhanaan keluarga rekan saya yang lain, yang selalu bisa mencari sisi positif atas deraan hidup yang diterimanya. Intinya, saya belajar banyak dari semua cerita teman saya.
Nah, cerita ini tentang seorang bapak yang saya tahu persis kedekatannya dengan Yang Maha Menghidupi. Saya iri melihat kekhusukan beliau saat sholat, saya bisa menangis mendengar doanya setiap kali dia mengimami saya, saya salut dengan bagaimana ia memandang anaknya yang berkebutuhan khusus, saya terilhami dengan seluruh kesederhanaan yang ia miliki.
Tetiba, beliau melontarkan pernyataan yang tak pernah saya duga “Salah saya apa ya Pak, kok Allah memberikan cobaan yang tak  pernah berhenti?” Serasa disiram air dingin saat pulas tertidur, karena saya tidak pernah menduga beliau akan melontarkan pernyataan itu. Lirih saya bertanya “Kenapa Pak?” Sebagai orang yang jauh lebih muda dari beliau, saya segan untuk bertanya mendetail apalagi berupaya menasehatinya. Memangnya saya siapa?
Karena saya melihat ada ‘danau’ di pelupuk matanya, saya memberanikan diri untuk membuka percakapan;
“Kok bisa ngomong begitu Pak? Ada apa to?”
“Saya mencari tahu salah saya sebenarnya apa, kok diberi cobaan seberat ini’ (sambil menarik nafas panjang)
Sebagai generasi yang dibesarkan oleh sinetron, komik, bahasa gaul dan budaya pop, tentu bukan hal mudah bicara dengan orang yang sudah kenyang pengalaman hidup. Tapi, saat itu, yang saya yakini adalah kebenaran harus disampaikan sekecil apa pun.
“Aku kok melihat ngga ada yang salah dengan hidup Bapak. Bapak kuat, Bapak dekat dengan Allah. Jadi aku percaya Allah sangat sayang sama Bapak”
“Semua tentang anak-anak saya. Setelah si kecil dengan keistimewaannya, kini yang satu lagi juga divonis dokter... Ah sudah lah!” (sambil seolah menghapus sekelebat bayangan dari wajahnya)
Helaan nafasnya panjang sekali. Aku tidak berani menyela beliau, kubiarkan ia dalam keheningan sesaat. Danau di matanya akhirnya kulihat sudah meleleh ke pipinya.

“Pak, aku kok melihatnya dengan cara yang berbeda ya? Saya tidak tahu masalah Bapak, dan saya juga gak mau tahu kalau itu terlalu privat”
Ah, saya tak perduli, apakah dia mau mendengarkan atau tidak. Yang penting saya coba melakukan apa yang saya bisa.

“Karena Bapak memang istimewa di mata-Nya, maka ia berikan hadiah itu pada Bapak. Anak itu khan titipan Allah. Jadi, dia berikan hamba-Nya yang paling istimewa untuk orang se-istimewa Bapak, tujuannya supaya Bapak tetap lurus. Nah dia berikan cobaan lagi, karena ternyata Bapak kuat dan mampu. Tentu kita semua sudah tahu, Allah ngga akan pernah kasih cobaan di luar kemampuan kita”
Terkesan menggurui? Biar saja! Ketika saya mengatakan ini pun, saya berusaha sesadar-sadarnya untuk memasukkan value yang sama ke jiwa saya, ya semacam self reminder juga. Perlahan saya mulai perhatikan bahasa tubuhnya, saya berniat akan menghentikan ocehan ini andaikan ia terlihat mulai jengah. Namun, air muka itu berubah, sudah nampak keceriaan dan optimisme di sana. Saya teruskan saja ocehan anak kecil ini.

“Hidup ini khan ngga selesai sampai sini Pak. Dunia akan musnah. Nah ketika urusan duniawi selesai, masih ada step berikutnya yang lebih abadi. Yang kita lakukan di sini khan cuma menyiapkan bekal. Ah, Bapak bekalnya sudah banyak. Lha saya?”
Saya menyadari persoalan persiapan logistik untuk kehidupan berikutnya pun belum lama, jadi rasanya juga ngga tepat-tepat amat saya memberi wejangan itu. Ah tak perduli juga, ini cara saya untuk mengingatkan diri sendiri.

Seketika itu saya teringat film drama Amerika tahun 2000 awal, “Pay It Forward” yang dibintangi Haley Joel Osment.  Dikisahkan secara apik bahwa untuk membuat kehidupan ini lebih baik, seseorang  harus melakukan kebaikan kepada tiga orang di mana ia tidak berharap ketiga orang itu untuk pay it back. Justru kebaikan ini harus diteruskan kepada ketiga orang yang lain juga. Berikutnya, banyak keajaiban muncul dari rantai kebaikan ini. Nah, saya adopsi inti film itu untuk kisah ini.

“Pak, daripada kita berkutat di masa lalu yang ujungnya tak pernah selesai, lebih baik energi ini kita salurkan untuk berbuat sesuatu. Kesembuhan adalah ridha-Nya. Kita cuma wajib berusaha. Semua doa, amalan, ibadah wajib dan tak wajib adalah bentuk cinta kita pada Allah. Mungkin wujud cinta itu juga mesti kita amalkan pada sesama, agar hidup kita seimbang dan juga jadi berkah buat orang lain.”

“Jika ada uang di dompet Bapak, habiskan Pak, berikan pada yang berhak. Selanjutnya ikhlas kan. Insya Allah, dicukupkan oleh-Nya”
Terdengar aneh?  Mungkin ya. Tapi saya tahu tidak semua hal perlu diberi alasan, tidak semua harus logis. Jika semuanya logis, hey buat apa kita hidup?

Singkat ia katakan “Terimakasih Pak, sudah mau mendengarkan”. Ia hapus air matanya, dan pergi.


Tiba waktu Ashar, diam-diam saya mendoakan sahabat saya ini agar diberikan kelapangan dan keikhlasan untuk menjalani semuanya. Saya berharap masih bisa mendengarkan kabar baik darinya, sehingga saya bisa teruskan cerita ini. Apa pun itu, tetap lah itu yang terbaik. Insya Allah.....

Jangan menyerah Pak!

Selasa, 06 September 2011

Dialog Kontemplatif: Kematian (1)

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.

Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir.


Topik berat ya? Ya, saya tahu itu. Menuliskannya pun tidak mudah tentunya. Meski begitu, saya coba untuk menuangkan kegundahan saya akan kematian supaya saya mampu bedialog dengan bathin saya sendiri. Toh, buat saya pribadi, mau jadi siapa pun Anda, seberapa makmurnya kita, ujung dari perjalanan ini tetap saja KEMATIAN.

Saya tergelitik untuk menulis ini setelah ada dua kejadian berturut-turut selama libur lebaran lalu. Pertama, kematian isteri pedangdut Saipul Jamil di ruas tol Cipularang. Kedua, kematian seorang rekan kantor yang notabene cukup dekat dengan saya. Kedua peristiwa itu cukup mengagetkan saya, karena nampak begitu mendadak.

Soal mendadak, apa iya? Itu logika kita sebagai manusia. Dalam logika Allah, tentu tidak demikian. Mendadak atau tidak jadinya relatif, tergantung seberapa siap menghadapinya. Jujur saja, kalau saya belum siap, entah karena saya masih menikmati keduniawian saya atau bekal saya belum cukup untuk sampai ke sana. Well, pada dasarnya toh sama saja ya, hal-hal duniawi identik dengan kefanaan. Dan saya yakin, timbangan bekal amal saya masih kalah berat dibanding beban dosa saya. Itu persoalan pokok yang membuat saya merasa belum SIAP.

Suatu saat dalam hidup saya, tersadarkan bahwa perjalanan hidup manusia di dunia tidak lah abadi. Cukup lama saya untuk mencerna maknanya. Lah, buat apa hidup kalau terus akhirnya mati? Kenapa harus menciptakan kehidupan jika ujungnya tetap ketakabadian? Pertanyaan ini cukup membuat galau saya selama beberapa saat. Pergulatan bathin yang luar biasa, karena sejuta rasa ada di sana, ya takut, cemas, bingung, disorientasi, tak bermakna.. uniknya tak satu pun yang positif. (Pertanyaan 1)

Lalu, saya pun teringat peristiwa beberapa tahun lalu, saat Lion Air gagal mendarat di Bandara Adisumarmo, Solo. Pesawat nyaris luluh lantak, puluhan meninggal dunia, sebagian besar selamat. Yang menggelitik adalah pernyataan salah satu tokoh nasional yang turut serta dalam penerbangan tersebut. Sesaat setelah persitiwa, beliau mengatakan "Alhamdulilah, Allah masih menyayangi saya.." Loh, yang mati terus gimana? Allah ngga sayang sama mereka, sehingga murkanya lah yang membuat mereka mati? Benar kah justru dengan kematian, Allah menunjukkan cintanya? (Pertanyaan 2)

Di sisi yang lain, sikap apa yang harus kita tunjukkan ketika berbelasungkawa? Dalang nyentrik,@sudjiwotedjo, dalam salah satu kicauannya di twitter memilih untuk mengatakan Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un (انّا للہ و انّا الیہ راجعون) daripada "Turut berduka cita ya..", karena baginya kematian itu agung yang harus disambut dengan suka cita. Benarkah? (Pertanyaan 3)

Tilik balik ke beberapa tokoh atau lingkaran dekat kita sendiri, siapa yang mati muda? Apakah penjahat kambuhan, koruptor atau justru orang-orang baik. Orang baik mati lebih dulu supaya terselamatkan dari limbah dunia. Is that true? (Pertanyaan 4)

Sobat, saya belum sampai tahap di mana saya bisa menjawab semua pertanyaan iseng saya di atas. Saya hidup dalam pertanyaan, dan kadang ia tak membutuhkan jawaban karena sudah memberikan jawaban dengan sendirinya. Pertanyaan-pertanyaan itu lah yang semakin menguatkan saya bahwa orang hidup (setidaknya yang masih diberikan kesempatan untuk hidup) harus punya TUJUAN, sebab jika tidak, sia-sia lah hidupmu.

Senin, 05 September 2011

Ngga Usah Kebanyakan Mikir, Take Action!

Blog ini dirancang, dipikirkan dan dikonsep cukup lama. Ya, betul cukup lama untuk sebuah urusan sepele ini. Padahal Blog ini tidak akan ada yang menilai, tidak juga ada yang meminta untuk segera dibuat, pun tak satu pun lingkar dalam saya yang mendorong saya untuk membuatnya. Murni keinginan saya dari dulu untuk menuliskan isi kepala saya.

Sepuluh tahun lalu (lama amat ya?), dengan mudah saya menuangkan semua catatan saya dengan tulisan tangan. Ketika mengenal teknologi komputer, dengan mudah saya klik Microsoft Word, ketik, simpan. Nah begitu para blogger mulai bergentayan di dunia maya, terbersit keinginan kuat untuk memindahkannya ke media maya yang akan lebih mudah bagi banyak orang untuk membacanya. Ah nyatanya baru tahun 2011, di bulan September ini, yang jelas jelas sudah mau penghujung tahun saya baru memulainya.

Terlambat? Wowww jelas lah, BANGET! Sambil menghibur diri, saya katakan "Tidak apa-apa Ton yang penting sudah mau mulai..." Well, persoalannya adalah, jika saya memulainya dari dulu, pasti........ (isi sendiri deh..) Saat ini sudah banyak blogger yang sudah memindahkan tulisannya ke media buku, sesuatu yang saya dambakan sejak lama. Saya? Hehehehe... baru satu tulisannya, pun ngga penting banget isinya..

Rekan, hal sesederhana ini lah yang bagi saya menunjukkan bahwa TUJUAN saya saat itu tidak cukup kuat untuk memaksa diri saya segera menulis di blog ini. Yang mau tulisannya sempurna dulu lah, yang pengen bahasanya ndakik-ndakik (biar keliatan pinter lah), yang pengen quoting orang terkenal (supaya ketahuan referensinya cukup banyak), dan sejuta alasan lainnya.

Detik ini saya akhiri... saya hanya mau memulai. Saya tahu tujuan saya (ini akan saya bahas dalam tulisan terpisah), ini hanya lah langkah kecil yang saya lakukan untuk menuju ke sana. Dan saya tak perduli apa pun, saya hanya ingin JUJUR dalam menulis (thanks to my wife for inspiring me on this). Kacau? Biarin? Tak terstruktur, I don't care! Sempurna butuh waktu dan tidak akan tecapai jika tidak MULAI. Yuk mareee!!